Seni berbicara pada anak, memerlukan ilmu tersendiri. Orang tua hendaknya tidak boleh menjadikan anak-anak sebagai sasaran inner child yang mereka alami.
Banyak orang tua, yang belum selesai dengan diri mereka sendiri, namun terburu buru menjadi seorang ayah atau Ibu.
Akibatnya anak anak yang secara fitrah nya mendapatkan pendidikan yang baik, berbalik menjadi orang tua yang toxic serta manipulatif.
Realitanya, banyak orang tua yang hanya sebatas menyekolahkan anak-anaknya tanpa adanya kesadaran mendidik dalam keluarga.
Sebaliknya guru di sekolah kewalahan dengan polah tingkah anak didiknya, karena di rumah anak-anak tidak mendapatkan hak tarbiyah dari orang tuanya sendiri.
Maka akar masalah Ayah dan Bunda hari ini adalah ada pada mental orang tuanya.
Beberapa orang tua mengalami psikosomatik yang menyebabkan mereka mengalami luka secara mental dan berpengaruh kepada fisik yang tiba-tiba sakit namun tidak di ketahui penyebabnya.
Seni Berbicara Pada Anak, Awali Dengan Kesehatan Mental Orang Tua
Seni berbicara pada anak, perlu di tekankan pada kesehatan mental orang tuanya.
Sebagian orang tuanya menganggap pendidikan adalah sebatas menyekolahkan anak di pendidikan terbaik dengan harga yang fantastis.
Namun saat di rumah, mereka tidak mendapatkan pola asuh yang baik dari kedua orang tuanya.
Ada yang dibentak, sibuk di tinggal main HP, berbicara dengan pola bahasa yang cenderung kasar, dan lainnya.
Ada beberapa catatan penting yang membuat anak-anak menjadi korban dari pelampisan emosi orang tua.
1. Pengaruh Mental (Inner Chlid)
Dalam suatu riset pengaruh mental mempengaruhi 80% dari kesuksesan hidup seseorang.
Problem utamanya adalah masalah mental pada orang dewasa seringkali berasal dari inner child yang terluka (tidak dipercaya, merasa diabaikan, atau selalu dinilai salah saat masa kecil mereka).
Yang terjadi pada masa orang tua masih kanak kanak.
Yang membuat respons emosional mereka berlebihan saat dewasa.
Ingat anak itu Amanah orang tua, mereka adalah anak titipan dari Allah yang masih bersih bagaikan kertas.
Yang tidak ada noda sama sekali.
Allah menitipakan bakat dan watak yang akan di bentuk oleh orang tuanya sendiri.
Alangkah dzolimnya apabila mereka tidak di didik dengan perlakuan yang sebaik baiknya.
2. Menyembuhkan Diri Dan Belajar Memaafkan Masa Lalu
Menyembuhkan diri dan belajar memaafkan masa lalu adalah kunci kesehatan mental orang tua untuk kembali sehat.
Sebelum bisa menjadi orang tua yang baik.
Seseorang harus “selesai” dengan dirinya sendiri.
Kunci untuk memulai penyembuhan diri adalah jujur dan mengakui emosi atau perasaan yang ada (lelah, lemah, marah, kecewa) kepada diri sendiri.
Karena memendamnya akan berujung pada ledakan emosi, kecemasan (anxiety), atau psikosomatis.
Yang berdampak pada tumpukan emosi pada Ibu atau Ayah.
Jika tidak mempu menyelesaikannya, mintalah bantuan ke psikolog sebagai bentuk kesungguhan diri kita agar sembuh.
Bertahaplah melakukan hal ini, perlahan namun konsisten untuk memperbaiki diri sendri.
Bergabunglah dengan komunitas yang mendukung kesehatan mental, serta jauhi lingkungan toxic
Dampak Sering Membentak Anak
Dampak sering membentak anak akan berakibat kepada anak-anak itu sendiri dalam jangka panjang.
Beberapa hal tersebut di antaranya :
1. Anak akan mengalaimi kerusakan otak.
Sekali bentakan dapat mempengaruhi dan mengubah struktur di otak anak, terutama yang berkaitan dengan kognitif (kemampuan memutuskan, menangkap persepsi, dan memaknai sesuatu).
Pada beberapa kasus, hal ini di sebabkan oleh Inner Child pada orang tua yang sering marah atau membentak ,
Yang acap kali bertindak atas kendali sosok diri mereka, yang masih kecil, terperangkap di dalam diri mereka.
- Emosi Negatif Menular Kepada Anak
Emosi negatif menular kepada anak-anak dalam perilaku hariannya mereka.
Jadi bahaya, pengasuhan orang tua yang belum selesai dengan inner child mereka adalah emosi yang tersalurkan kepada sang anak.
Yang membuat sang buat hati melakukan perilaku menyimpang (misbehavior) karena sebenarnya mereka butuh perhatian dan ingin didengarkan.
Atau dalam kaidah agama islam di kenal dengan istilah Hiwar.
Yaitu saat anak dan orang tua saling mendengarkan curhatan mereka tanpa adanya manipulasi dan sikap toxic dari orang tuanya.
Namun, bagi ayah bunda yang mengalami masalah inner child mauapun psikosomatik, akan sulit melakukan Hiwar.
Jika tangki emosi positif orang tua (merasa dicintai, aman, dan nyaman) juga kosong.
Tiga Tangki Emosi Anak dan Tahap Perkembangan
Dalam memulai seni berbicara pada anak, ada 3 tangki emosi anak yang perlu di isi sesuai masa perkembangnnnya .
Apa saja Itu?
Yaitu rasa dicintai, rasa aman, serta nyaman.
Sejak awal, ada beberapa tahapan orang tua yang harus di lakukan agar tahapan emosi anak anak bisa berkembang dengan baik.
1. Fase perkembangan dalam Kandungan
Yang pertama adalah fase perkembangan dalam kandungan.
Dalam Fase ini hal pertama yang bisa orang tua lakukan adalah mengajak berbicara Janin. Tujuan berbicara agar terhubung antara Perasaan Ibu dan Anak (connected).
Mengajak berbicara anak-anak dalam janin.
Bisa dengan memperdengarkan kandungan Al-qur’an, hadits dan lainnya yang bermanfaat.
Seperti “Ummah mau baca qur’an nak, dedek mendengarkan ya”
Hal yang terlihat ringan ini,
namun sering di lakukan berulang ulang secara berkelanjutan akan menciptakan hubungan emosional antara Bunda dan Buah Hati.
2. Fase Anak memasuki Sekolah
Fase yang berikutnya adalah saat anak memasuki usia sekolah.
Sambutlah mereka dengan memeluk setelah pulang, ajak berbicara mereka.
Gunakan obrolan yang ringan seputar kegiatan atau keseruan mereka di sekolah.
Ingat !, Anak- anak sangat antusias jika orang tua menjadi pendengar yang baik.
Dengan begitu akan membangun kepercayaan diri mereka.
3.Seni Berbicara Pada Anak Di Fase Remaja
Memasuki fase remaja adalah dalam rentan usia 10-17 tahun.
Jadilah pendengar yang baik dan tahan diri untuk teburu buru mengkoreksi.
Hindari terlalu banyak menasihati atau intruksi (karena akan membuat mereka memberontak/rebel atau menekan diri).
Di tahap ini jadikan mereka seperti konsultan, ajak berbicara dengan tanpa mendekte.
Ingat !, mereka sudah bisa melogika dengan baik, tinggal arahkan mereka dengan pendekatan dan kasih sayang.
Baca Juga : Awas! Terlanjur Membentak Anak
Prinsip Seni Berbicara Pada Anak, Koreksi dan Perbaikan
Seni berbicara pada anak perlu pembiasaan.
Sering kali orang tua melarang anak-anak menangis saat melihat kejadian yang tidak nyaman.
Seperti, ketika anak mengalami kecelakaan atau atau tersulut emosinya.
Gunakan teknik mengakui dan memvalidasi perasaannya terlebih dahulu.
Beri mereka ruang sama seperti orang dewasa saat mengalami ketidak nyamanan.
(“Oh, kamu sakit ya? Pasti rasanya kaget dan takut.”).
Hai Ini mengajarkan anak untuk tidak panik dan merasa dimengerti oleh orang tuanya.
Dalam berbicara kepada mereka ada beberpa hal yang perlu diperhatikan,
1. Hindari memarahi Kaka di Depan Adik nya
Pertama hindari memarahi kaka di depan adiknya,.
Memarahi Anak di Depan Adiknya akan membuat si Kakak merasa dipermalukan, serta si Adik bisa merasa takut.
Maka timbulah perasaan :
(“Kakak saja dimarahi, apalagi aku”). Sebaiknya hindari hal seperti ini.
2. Jangan Merasa Terlambat
Yang Kedua pada akhir pembahasan ini adalah tidak ada kata terlambat.
Jangan pernah merasa bersalah atau menyalahkan diri sendiri.
Ingatlah filosifi pohon bonsai, yang bisa dibentuk di usia dewasa.
Apabila tidak mendapati karakter anak yang terlanjur menyimpang akibat kesalaha pola asuh.
Maka hal itu juga bisa di perbaiki, (bahkan pada usia 45-50 tahun sekalipun), asalkan orang tua terus berusaha.
Kesimpulan Seni Berbicara Pada Anak
Mendidika adalah seni, bukan hanya sebatas teori di atas kertas.
Berhentilah membandingkan keluarga satu dengan yang lainnya .
Anak yang satu dengan anak yang lainnya, Ibu yang satu dengan ibu yang lainnya.
Masing masing anak memiliki wataknya sediri, sehingga tidak adil, apabila dengan mudah membanding – bandingkan mereka.
Fokuslah pada perkembangannya, jangan jadi orang tua yang FOMO dengan trend parenting dalam media sosial.
Kunci Bahagia adalah bukan tentang mendapatkan semua yang diinginkan, tetapi tentang mampu menerima dan memaknai semua hal-baik dan buruk yang terjadi dalam hidup.
Ditulis oleh : Ghassan Nikko Hasbi