Mendidik anak menuju akil baligh adalah fas penting dalam memasuki masa pubertas adalah fase penting dalam kehidupan anak.
Dalam Islam, fase ini disebut akil baligh, yaitu saat seorang anak sudah dianggap dewasa dan mulai memikul tanggung jawab agama.
Banyak orang tua masih menganggap pembicaraan seputar pubertas dan seksualitas sebagai hal tabu, padahal justru pada fase inilah anak memerlukan arahan yang benar. Dalam kesepatan kali ini kita akan membahas bagaimana cara mendidik anak menuju akil baligh berdasarkan ilmu, prinsip, dan cinta.
Mengapa Mendidik Anak Menuju Akil Baligh Itu Penting
Pada proses pendampingan akil baligh perlu pendampingan secara berkelanjutan.
Di Fase ini pula ayah dan ibu di tuntut memiliki ilmu pendidikan sexual.
Ilmu seharusnya mengubah pikiran, perasaan, dan perilaku.
Ini dikenal sebagai konsep 3P: Perasaan, Pikiran, Perbuatan.
Jika pola pikir orang tua tidak berubah, maka anak akan mengulang kebingungan yang sama: malu, mencari tahu diam-diam, atau mendapat informasi dari sumber yang salah.
Banyak orang tua, yang beranggapan berbicara mengenai dunia pubertas adalah yang tabu, pada hal ini adalah hal penting dalam tahapan akil baligh
Pembicaraan tentang tubuh, pubertas, dan seksualitas bukan hal memalukan.
Justru ini adalah wujud cinta dan perlindungan orang tua kepada anak. Karena itu, sebelum memiliki anak kita dianjurkan mencari ilmu pengasuhan agar mampu mendidik dengan benar, bukan hanya berbekal naluri.
Baca Juga : Tips Mendidik Anak Ala Rasulullah
Memahami Perbedaan Pubertas dan Baligh
Ada perbedaan antara Pubertas dan Baligh itu sendiri
Apa Itu Pubertas dan Apa Itu Baligh?
- Pubertas: perubahan fisik, emosional, dan hormonal pada anak.
- Baligh (Akil Baligh): istilah agama untuk menyebut anak yang telah mencapai kedewasaan. Sejak saat itu, hukum agama berlaku bagi mereka (mukallaf).
Baligh tidak mengenal usia pasti. Ada anak yang sudah baligh di usia 9 atau 10 tahun. Dua faktor yang mempercepat pubertas adalah gizi dan rangsangan lingkungan (misalnya paparan gadget dan media). Karena itu, orang tua harus mempersiapkan anak, bukan membiarkannya “mengalir begitu saja”.
Namun, ada perbedaan pendapat mengenai batas usia Akil Baligh, yaitu ada yang berpendapat usia maksilam 15 tahun dan ada pula 18 tahun.
Persiapan Orang Tua Dalam Pendampingan Meuju Akil Baligh
Ada beberapa persiapan orang tuan dalam mendapingi meuju fase akil baligh di antaranya :
1. Memiliki Prinsip yang Benar
Kata kunci mendidik anak menuju akil baligh adalah punya prinsip. Untuk memiliki prinsip, orang tua harus memiliki ilmu. Kita tidak bisa mengikuti budaya semata, karena standar agama lebih jelas.
2. Bicara Sejak Usia 7–8 Tahun
Karena paparan informasi anak sekarang sangat besar, percakapan tentang tubuh dan pubertas sebaiknya dimulai sejak usia 7–8 tahun. Gunakan bahasa sederhana, praktis, dan sesuai usia.
3. Ajarkan Tiga Aspek: Perasaan, Pikiran, Perbuatan (3P)
- Perasaan: akui perasaan anak (“Sedih ya?”, “Marah ya?”) tanpa menghakimi.
- Pikiran: arahkan cara berpikir anak setelah perasaannya diterima.
- Perbuatan: baru ajarkan perilaku yang sesuai nilai agama.
4. Bersuci sebagai Kunci Ibadah
Setelah mimpi basah atau menstruasi, anak wajib bersuci agar ibadahnya sah. Orang tua harus mengajarkan cara bersuci yang benar secara praktis.
Baca Juga : Mendidik Anak Dengan Pola Asuh Neuroparenting
Peran Ayah dan Ibu dalam Mendidik Anak Menuju Akil Baligh
Ada dua pernah penting, di fase ini yaitu antara peran ayah dan peran ibu :
Peran Ayah
Ayah memiliki tanggung jawab besar, termasuk untuk anak perempuan. Karena secara fitrah, sperma ayah yang membuahi sel telur ibu. Maka, ayah wajib hadir dalam penjelasan tentang pubertas dan ibadah anaknya.
Peran Ibu
Ibu berperan sebagai pendamping emosional. Namun tanggung jawab utama akidah, ibadah, dan akhlak tetap pada ayah. Anak-anak berayah, mereka ada. Berayah tapi tidak hadir, mereka tiada.

Mengatasi Tantangan Zaman Gadget dan Pornografi
Salah satu faktor percepatan pubertas adalah paparan gadget dan konten ketelanjangan (pornografi).
Banyak anak anak yang sudah di berikan Gadget pada usia, TK atau Bahkan Usia PAUD di usia tersebut.
Akibatnya, bukan orang tua yang jadi pendamping anak anak, tetapi tontonan media sosial yang menjadi teman harian mereka.
Karena itu:
- Tentukan usia pemberian gadget (idealnya setelah 7–8 tahun, ketika anak sudah berakal).
- Buat kesepakatan bersama antara ayah dan ibu soal aturan pemakaian gadget.
- Ajarkan anak sejak dini tentang aurat dan batas pandangan dengan bahasa sederhana.
Pornografi bisa dijelaskan sebagai “ketelanjangan” — memperlihatkan aurat yang seharusnya tertutup.
Oleh Karena itu, mau tidak mau, orang tua harus memberikan tarbiyah.
Seperti memberikan contoh gambar yang aman, untuk mengajari anak membedakan mana yang boleh dan tidak.
Membangun Karakter Anak Laki-Laki dan Perempuan
Dalam pendampinggan muju Baligh hendaknya orang tua memberikan tarbiyah mengenai tugas anak perpuan dan anak laki-laki.
- Anak laki-laki: ajarkan tanggung jawab sebagai calon suami dan ayah, bukan hanya pencari nafkah.
- Anak perempuan: ajarkan menjaga diri, memahami menstruasi, serta hak dan kewajiban setelah baligh.
Pembelajaran utama selalu dimulai dari rumah, lewat contoh nyata orang tua. Figur teladan lebih berpengaruh daripada kata-kata.
Kesimpulan: Mendidik Anak Menuju Akil Baligh adalah Investasi Dunia Akhirat
Mendidik anak menuju akil baligh bukan sekadar bicara tentang perubahan fisik, tapi persiapan spiritual, emosional, dan sosial. Orang tua perlu:
- Memiliki ilmu sebelum punya anak.
- Memiliki prinsip dan sikap yang konsisten.
- Mengajarkan anak tentang perasaan, pikiran, dan perbuatan (3P).
- Hadir bersama anak saat mereka memasuki pubertas, bukan membiarkan mengalir begitu saja.
Jika anak tidak dipersiapkan, mereka akan mencari jawaban sendiri di luar rumah, berisiko terpapar informasi yang salah. Dengan pendekatan yang penuh ilmu, prinsip, dan cinta, orang tua dapat membantu anak memasuki fase akil baligh dengan lebih siap, sehat, dan lurus
Ingin Anak Jadi Hafidz Qur’an? Daftar Di rumahtahfidzmagelang.com