Mengelola Generasi Strawberyy Menurut Pandangan Islam

//

Mengelola Generasi Strawberyy  memerlukan Ilmu, dan Ketekunan. Menjadi Orang tua bukan hanya sebatas menyekolahkan, mengantarkan ke tempat Les , sedangkan seorang Ibu menyediakan makan , baju yang rapi saja.

Akan tetapi juga Pendidikan dalam keluarga

Jika pengetahuan orang tua hanya sebatas itu-itu saja, maka ayah dan bunda benar benar harus belajar!

Ingat mengelola generasi Strawberyy bukan hanya memenuhi kebutuhan pokoknya saja, namun juga memenuhi kebutuhan psikologis anak, serta spiritual anak itu sendiri.

Jika orang tua tidak lihai dalam mengelola generasi stroberi khusus seputar agama Islam, maka mereka dengan mudahnya akan mencari lewat search engine, dengan berbagai sumber yang validitasnya masih perlu bimbingan.

Oleh karena itu wajib hukumnya, untuk mempelajari Ilmu parenting bagi orang tua agar, bisa mendampingi mereka menuju pribadi yang berkarakter mandiri.

Generasi Strawberyy

Apa Itu Generasi Strawberyy?

Generasi Strawberyy adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan anak-anak muda yang lahir setelah tahun 1990. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Rhenald Kasali. Generasi ini disebut “stroberi” karena ibarat buah stroberi yang indah, menarik, dan manis, tetapi mudah rusak atau lembek bila terkena tekanan sedikit saja.

Ini semua bisa terjadi karena pola asuh dari keluarga itu sendiri. Ingat, ini bukan persoalan sekolah Mahal, Murah atau Fasilitas terbaik untuk anak-anak.

Ini tentang bagaimana orang tua bisa hadir, menjadi ayah dan Ibu yang mampu membimbing mereka menghadapi zaman.

Ciri-Ciri Generasi Strawberyy

  • Tampak menarik, kreatif, dan penuh ide segar.
  • Terpapar informasi digital sejak kecil.
  • Mudah menyerah dan gampang sakit hati.
  • Tidak tahan tekanan sosial maupun emosional.

mengelola stroberi generasi

Penyebab Munculnya Generasi Strawberyy

Penyebab munculnya generasi Stroberi, berawal dari keluarga itu sendiri, dari sinilah di dalam Islam sudah di jelaskan dalam surat An Nisa Ayat 9 :

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah,

yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.

Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan kenapa Muncul Generasi Strawberyy

Faktor Pola Asuh

Banyak anak yang tumbuh dalam kondisi “berayah ada tapi tiada, beribu ada tapi tiada”. Kehadiran orang tua sering tergantikan oleh gadget, televisi, atau bahkan pengasuh. Anak tidak mendapatkan sentuhan kasih sayang yang cukup.

Faktor Lingkungan Digital

Gadget, internet, dan media sosial memengaruhi pola pikir, emosi, dan kebiasaan anak. Mereka lebih cepat terangsang oleh informasi, tetapi juga lebih mudah stres karena tekanan akademis, sosial, dan ekspektasi yang tidak sesuai dengan relitas sosial mereka.

Sehingga psikologi mereka mudah stress, gampang menyerah dan mudah berganti Ganti tujuan.

Yang mengarah kepada mudahnya Self Healing


Dampak Pola Komunikasi Orang Tua

Dampak pola komunikasi orang tua yang buruk, akan mempengaruhi anak anak yang akan tumbuh.

Kebanyakan orang tua mendidik anak anaknya hampir sama dengan apa yang orang tua mereka ajarkan.

Mulai dari Mitos, Pola Bahasa dan hal hal lainnya yang di anggap tabu, orang tua tidak mau ambil pusing dan memilih mengambil pendapat orang tua zaman dahulu.

Nah, disinilah kesalahan orang tua yang sering terjadi, Sebagian menganggap hal ini biasa saja.

Hingga mereka lalai dalam mendidik anak anak, dan enggan untuk belajar parenting.

Padahal dalam mendidikan anak-anak ada beberapa hal penting yang perlu di perhatikan,

kami ibaratkan dengan hal di bawah ini :

Falsafah Menggenggam Air

Emosi diibaratkan seperti air, yaitu tidak bisa digenggam erat.

Tetapi mudah keluar melalui ekspresi wajah, suara, dan bahasa tubuh. Bila orang tua tidak bisa mengendalikan emosi, anak akan merasakannya dan terbawa suasana negatif.

Maka yang terjadi , Adalah ledakan emosi yang mengarah pada sikap negatif anak anak

Kata-Kata yang Membentuk Jiwa

  • Kata positif → menguatkan jiwa anak, membuatnya percaya diri.
  • Kata negatif → melemahkan jiwa anak, membuatnya rapuh.

Jika anak sering mendapatkan kata-kata kasar, membandingkan, atau meremehkan, kantong jiwanya akan “kempot” (kosong). Inilah yang menjadikannya generasi stroberi bermunculan.

Baca Juga : 10 Kesalahan orang Tua Mendidik Anak Menurut islam


Solusi Menghadapi Generasi Stroberi

Mengelola Emosi Orang Tua

  • Kendalikan nada bicara, turunkan suara.
  • Ambil jeda, tarik napas, dan berpikir sebelum berbicara.
  • Gunakan wudhu atau doa untuk menenangkan diri.
  • Hadiri Kajian Rutin, untuk membentuk suasana diri

Komunikasi Efektif

  • Gunakan kalimat bertanya (mendorong anak berpikir dan introspeksi).
  • Baca bahasa tubuh anak, tebak emosinya, dan sebutkan perasaan itu.
  • Hargai perasaan anak dan diskusikan solusinya.

Memberikan Konsekuensi yang Tepat

  • Bedakan antara konsekuensi logis (misalnya terlambat → ketinggalan pelajaran) dan alamiah (misalnya malas sarapan → lapar).
  • Jangan selalu menyelamatkan anak dari kesalahannya, biarkan ia belajar dari konsekuensi alami yang timbul

Allah berfirman dalam QS. Maryam ayat 28

Wahai saudara perempuan Harun (Maryam)! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang perempuan pezina.”

Nah, Dari sini dapat di ambil kesimpulan bahwa sebelum merubah perangai anak anak, kondisikan terlebih dahulu diri sendiri.

Terutama Ayah dan Ibu, ciptkan komunikasi yang instest dalam keluarga.

Buang egoisme, dan cari jalan tengahnya.

Sehingga anak anak tidak menjadi korban kemalasan orang tua dalam menididik.

Kseimpulan Mengelola Generasi Stroberi

Generasi stroberi bukanlah vonis akhir. Mereka bisa tumbuh menjadi generasi tangguh bila orang tua:

  1. Hadir secara emosional.
  2. Memberikan kata-kata positif.
  3. Mengajarkan keteguhan melalui konsekuensi yang mendidik.

Kuncinya adalah kesabaran, komunikasi yang baik, dan kasih sayang. Dengan itu, anak-anak bisa memiliki mindset positif dan jiwa yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman.

Kunjungi juga kami di rumahtahfidzmagelang.com

Leave a Comment